Kamis, 19 November 2015

Daun-daun kerinduan

Tentang penantian yang belum juga usai
tentang tanya yang belum jua bertemu jawaban
dan tentang cinta yang belum jua menemukan titik terang

ahaaaai,, 
apakah ini gerangan? 
seperti biasa, tubuhku terbaring lagi, kesepian
apa? ya memang entah apa yang aku harapkan kali ini

ahhh,,, rindu sepertinya telah berpulang lagi

Kamis, 14 Mei 2015

DIAGNOSIS LABORATORIUM BEBERAPA PENYAKIT PARASITER



I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik (Kadarsan,2005).
Penularan penyakit parasit disebabkan oleh tiga faktor yaitu sumber infeksi, cara penularan dan adanya hospes yang ditulari. Efek gabungan dari faktor ini menentukan penyebaran dan menetapnya parasit pada waktu dan tempat tertentu. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat bersifat menahun disertai dengan sedikit atau tanpa gejala. (Noble, 1961).
Salah satu penyakit infeksi  yang masih banyak terjadi pada penduduk di Indonesia adalah yang disebabkan golongan Soil-Transmitted Helminth, yaitu golongan nematode usus  yang dalam penularannya atau dalam siklus hidupnya melalui media tanah. Cacing yang tergolong dalam Soil-Transmitted Helminth adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis serta cacing tambang yaitu Necator americanus dan  Ancylostoma duodenale (Siregar, 2006)
Proses identifikasi infeksi cacing perlu diadakannya pemeriksaan, baik dalam keadaan cacing yang masih hidup ataupun yang telah dipulas. Cacing yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasitnya. Untuk cacing atau protozoa usus akan dilakukan pemeriksaan melalui feses atau tinja (Kadarsan,2005).
Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan (Gandahusada, 2000).
B.     Tujuan
1.      Mendiagnosa adanya infeksi cacing parasit pada hati sapi, empedu sapi, babat sapi, usus  kambing dan usus ayam.
2.      Mengetahui siput sebagai hospes intermedier dan fase-fase yang terjadi dalam tubuh hospes intermedier.
3.      Mengetahui morfologi cacing parasit (telur, larva, dan dewasa).


II.                MATERI DAN METODE
A.       Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah gelas objek, kaca penutup, tabung reaksi, baki, gelas beker, saringan, tusuk sate, kertas saring, plastic es, penjepit, mikroskop, pipet tetes, dan tissue.
Bahan yang digunakan adalah feses ayam, bebek, kambing, sapi, balita, larutan eosin 2%, NaCl 33%, dan akuades.
B.        Metode
a.      Metode Apung
1.         10 gram tinja di campur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%) dalam beaker glas kecil, kemudian diaduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa di saring menggunakan penyaring teh.
2.         Didiamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan lidi di ambil larutan permukaan dan di taruh di atas gelas objek, kemudian di tutup dengan cover glass. Diamati di bawah mikroskop.
3.         Di tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan tabung, didiamkan selama 5-10 menit dan di tutup/di letakkan gelas objek dan segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas gelas preparat dengan cairan berada di antara gelas preparat dan gelas penutup, kemudian diamati di bawah mikroskop.
b.      Metode Natif (Langsung)
1.      Gelas objek yang bersih di teteskan 1-2 tetes NaCl fisiologi atau eosin 2%
2.      Sedikit feses diambil dengan lidi dan diletakkan pada gelas objek tersebut
3.      Feses yang diratakan dengan lidi, kemudian di tutup dengan cover glass.
4.      Diamati di bawah mikroskop.
c.       Metode Harada Mori
1.            Plastik diisi aquades steril kurang lebih 5ml.
2.            Dengan tusuk sate, feses di oleskan pada kertas saring sampai mengisi sepertiga bagiannya tengahnya.
3.            Kertas saring di masukkan ke dalam plastik tersebut diatas. Cara memasukkan kertas saring dilipat membujur dengan ujung kertas menyentuh permukaan aquades dan feses jangan sampai terkena aquades.
4.            Plastik dilipat sedikit bagian atasnya kemudian dijepit.
5.            Simpan selama 3-7 hari.
6.            Diamati perkembangan ada tidaknya larva


III.       HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Telur dan Larva Cacing Parasit
Kelompok
Feses
Metode
Direct slide
Metode apung
Harada mori
1
Ayam


-
Sapi


-
Kambing


-
Bebek 


1 Larva Ascaridiagalli
Balita


-
2
Ayam
Ascaridiagalli 1 larva

Ascaridiagalli> 5 larva
Sapi



Kambing



Bebek 



Balita



3
Ayam
Ascaridiagalli 1 (larva)
-
-
Sapi
-
-
-
Kambing
-
-
-
Bebek 
-
-
-
Balita
-
-
-
4
Ayam
12 larva Ascaridiagalli


Sapi



Kambing

2

Bebek 



Balita




Larva Ascaris di bebek.jpg
Gambar 1. Cacing Ascaridia galli pada Feses Bebek Metode Harada Mori
B.     Pembahasan
Identifikasi parasit tergantung dari persiapan bahan yang baik untuk memeriksa dengan mikroskop, baik dalam keadaan hidup maupun sebagai sediaan yang telah dipulas. Hal yang menguntungkan adalah untuk mengetahui kira-kira ukuran dari bermacam-macam parasit tetapi perbedaan individual tidak memungkinkan membedakan spesies hanya dengan melihat besarnya. Tinja sebagai bahan pemeriksa harus dikumpulkan didalam suatu tempat yang bersih dan kering bebas dari urine. Identifikasi terhadap kebanyakan telur cacing dapat dilakukan dalam beberapa hari setelah tinja dikeluarkan. (Kurt, 1999)
            Hasil pemeriksaan tinja yang telah dilakukan dengan metode natif, metode apung, dan metode harada mori menunjukkan hasil yang negatif yang artinya bahwa tidak ditemukan telur ataupun larva dalam tinja yang telah diperiksa. Hasil positif hanya terdapat pada hewan unggas yaitu ayam dan bebek dengan ditemukannya Ascaridia galli. Hasil negatif pada semua metode yang dilaksanakan pada hospes lain dapat disebabkan antara lain:
  1. Sampel atau feces diperoleh dari balita yang masih balita yang belum terkontaminasi baik lingkungan maupun makanannya (tidak terinfeksi cacing parasit usus)
  2. Kurang ketelitian dan kecerobohan praktikan dalam melakukan praktikum. Misalnya pada metode natif pada saat menusuk-menusukkan lidi bambu pada feces telur yang terdapat pada feces tidak menempel pada lidi. Pada metode apung, pada saat larutan feces didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.
  3. Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur cacing parasit maupun larvanya.
  4. Praktikan kurang paham tentang urutan kerja pada masing-masing metode.
  5. Pada saat diambil fecesnya, cacing belum bertelur sehingga tidak ditemukkan telur pada feces.
Pemeriksaan feces pada dasrnya dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan secara kualitatif dan pemeriksaan secara kuantitatif. Pemeriksaan feces secara kualitatif, yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukkan telur pada masing-masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya. Pemeriksaan feces secara kuantitatif yaitu pemeriksaan feces yang didasarkan pada penemuan telur pada tiap gram feces (Gandahusada,2000).
Telur fertile bentuknya yaitu, telur oval lebar, mempunyai tiga lapis dinding yang terluar bergerigi, terdapat rongga udara. Telur infertile bentuknya yaitu, telur lebih besar daripada yang fertile, dengan ovum yang atrofi, tidak terdapat rongga udara. Metode yang digunakan pada pemeriksaan feces masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan masing-masing metode antara lain:
  1. Metode natif : Murah, mudah dan cepat.
  2. Metode apung : Baik untuk semua jenis telur baik untuk infeksi berat dan ringan. Telur yang ditemukan terpisah dari kotoran.
  3. Metode harada mori : Baik sekali untuk melihat infeksi cacing tambang dimana larvanya jauh lebih besar dari telurnya.
Kelebihan masing-masing metode yang digunakan antara lain:
  1. Metode natif : Sedikitnya feces yang digunakkan untuk infeksi ringan hanya untuk pemeriksaan infeksi berat.
  2. Metode apung : membutuhkan waktu lebih lama, pada waktu pengambilan telur, telur yang mengapung tidak terambil. Pada waktu menunggu baki atau tabung reaksi tersenggol sehingga tidak mengapung dan hasilnya negatif.
  3. Metode harada mori : Membutuhkan waktu dan alat yang lebih lama.
Teknik Flotasi pada metode apung untuk konsentrasi kista dan telur berdasarkan perbedaan berat jenis antara larutan kimia tertentu (1120 sampai 1210) dan telur larva cacing serta kista protozoa (1050 sampai 1150). Terutama yang dipakai adalah larutan gula, NaCl atau ZnSO4. Telur dan Kista mengapumg dipermukkaan larutan yang lebih berat, sedangkan tinja tenggelam perlahan-lahan ke dasar. Flotasi lebih baik dari pada sedimentasi pada pembuatan konsentrasi kista dan telur, kecuali telur beroperkulum, telur Schistoma dan telur Ascaris yang tidak dibuahi. Flotasi ZnSO4 biasanya sering dipergunakkan dan lebih baik dari flotasi gula, NaCl atau larutan garam jenuh (Brine). Cara pengapungan feces dicampur dengan larutan garam denagn berat jenis 1200 gram/cc, sehingga telur cacing dan kista akan mengapung ke permukaan kemudian diambil sebagai bahan pemeriksaan. Larutan dengan berat jenis 1200 gram/cc ini telur cacing Necator americanus, Ancylostoma dupdenale, Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura tidak mengalami kerusakan, tetapi larva dari Schistosoma sp, Strongyodes sp, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan kista protozoa menjadi sangat menciut. Sebaliknya, telur Opisthorchis sp dan Clonorchis sinensis berat jenisnya lebih besar dari 1200 gram/cc sehingga mengendap (Brown, 1969).
Cara menghitung telur pada pemeriksaan dengan metode kato kuantitatif. Penyelidikkan mengenai penduduk yang terkena infeksi, diharapkan dapat menentukkan berat infeksi dengan mendapatkan jumlah telur yang diperkirakan. Telur yang dikeluarkan setiap harinya berbeda-beda, maka diperlukan perhitungan atas beberapa bahan, terdapat siklus dalam pembentukan telur, pengaruh dari kepadatan tinja, makanan, pencernaan yang salah dan faktor-faktor lain yang diketahui, dan pengeluaran telur tiap cacing mungkin berbeda untuk hospes yang berbeda. Jumlah telur yang dikeluarkan tiap harinya lebih dapat dipercaya dari pada jumlah telur dalam tiap gram tinja. Menghitung jumlah telur sebelum pengobatan dapat menentukan pengobatan yang diperlukan dan menghitung jumlahnya setelah pengobatan dapatmenentukkan hasilnya. (Brown, 1969)
Empat kriteria untuk infeksi oleh cacing parasit (Dahl, 2002):
  • Infeksi sangat ringan : 1-9 (15-149 butir telur)
  • Infeksi ringan : 10-24 (150-375 butir telur)
  • Infeksi sedang : 25-49 (375-749 butir telur)
  • Infeksi berat : > 50 (750 butir telur lebih)
Pemeriksaan kuantitatif Kato yang dilakukan hanya berdasarkan perkiraan yang ditentukkan praktikan. Perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil yaitu:
  • Infeksi pada orang dewasa termasuk infeksi ringan dengan 90 telur yang ditemukkan pada 0,5 gram tinja.
  • Infeksi pada anak-anak termasuk infeksi ringan dengan 60 butir telur pada 0,5 tinja.
Infeksi oleh parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Diagnosis yang berdasarkan gejala klinik saja kurang dapat dipastikkan, segingga harus dengan bantuan pemeriksaan labolatorium. Bahan yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasit, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang diperiksa adalah tinja. Identifikasi terhadap kebanyakkan telur cacing dapat dilakukan dalam bebrapa hari setelah tinja dikeluarkan (Ghandahusada, 2000).

Praktikum kali ini didapatkan caing Ascaridia galli dari feses bebek dan feses ayam. Ascaridia galli merupakan parasit besar yang umum terdapat di dalam usus kecil berbagai unggas peliharaan maupun unggas liar. Penyebarannya luas di seluruhdunia. Cacing A. galli merupakan cacing terbesar dalam kelas nematoda pada unggas. Tampilan cacing dewasa adalah semitransparan, berukuran besar, dan berwarna putih kekuning-kuningan (Tiuria, 1991).    
Pada bagian anterior terdapat sebuah mulut yang dilengkapi dengan tiga buah bibir, satu bibir terdapat pada dorsal dan dua lainnya pada lateroventral. Pada kedua sisi terdapat sayap yang sempit dan membentang sepanjang tubuh. Cacing jantan dewasa berukuran panjang 51 – 76 mm dan cacing betina dewasa 72 – 116 mm. Cacing jantan memiliki preanal sucker dan dua spicula berukuran panjang 1 – 2,4 mm, sedangkan cacing betina memiliki vulva dipertengahan tubuh. Telur A. galli berbentuk oval, kerabang lembut, tidak bersegmen, dan berukuran 73–92 x 45–57µm (Levine, 1994).
Daur hidup A. galli bersifat langsung dan tidak langsung. Telur infektif yang termakan oleh induk semang, akan menetas di dalam proventrikulus (lambung kelenjar) atau di dalam duodenum (Soulsby, 1982).
Dahl (2002) telah membuktikan bahwa berbagai stadium kehidupan cacing baik larva maupun cacing dewasa masih ditemukan pada saluran cerna ayam Lohmann Brown berumur 29 minggu, meskipun infeksi per oral dengan 1000 ± 50 telur infektif A.galli telah berlangsung selama 10 minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun infeksi L2 telah berlangsung selama 12 minggu, stadium larva masih ditemukan di dalam saluran cerna ayam. Suspensi ekskretori/sekretori larva A. galli dapat memicu respons humoral ayam petelur. Aplikasi ekskretori/sekretori larva A. galli, IgY anti-ascaridiosis, dan kombinasinya dapat mengurangi jumlah kelangsungan hidup cacing A. galli di dalam usus halus ayam (Darmawi, 2011).
            Di dalam perkembangan cacing A. galli, sebagian dari larva mengalami fase jaringan {"tissue phase") yang dapat berlangsung dari hah pertama sampai hah ke-26 sesudah infeksi. Menurut Ackert (1971), fase jaringan ini terjadi karena larva yang masuk ke dalam selaput lendtr usus mengalami hambatan perkembangan (tertahan). jadi cacing A. galli hidup di dalam selaput lendir duodenum mulai hah ke-8 - 17 setelah infeksi. Larva 5 (L5) (cacing muda) kembali ke dalam lumen duodenum pada hari ke-17 - 18 setelah infeksi. Cacing muda ini siap berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing betina menurut Ackert (1971) mulai bertelur antara 6-8 minggu pasca infeksi.
Ascaridia galli menimbulkan efek patogenik terutama ketika masih berbentuk larva di dalam selaput lendir usus. Larva akan menyebabkan lesio-lesio, perdarahan dan enteritis. Gejala yang mungkin tampak pada ayam yang terinfeksi adalah anemia, diare, dan rasa haus yang beriebihan, kaki menjadi pucat dan sayap terkulai. Ayam kelihatan lemas, malas serta mengantuk. Pada akhirnya pertumbuhan berat badan menjadi terhambat dan menurun (Calneck, 1991). Setiap ekor cacing A. galli bahkan diduga dapat menurunkan berat badan ayam sebesar 1,5 gram.
            Akoso (1998) mengatakan dalam waktu 35 hari cacing menjadi dewasa dan mulai bertelur. Setelah cacing ini menjadi dewasa akan meningalkan selaput lendir dan tinggal di dalam lumen usus. Ayam yang masih muda paling peka terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cacing ini. Dalam umur 2 atau 3 bulan ayam akan membentuk ketahanan (imunitas jaringan) terhadap cacing gilik. Kresno (2001) menambahkan infeksi ascaridia galli pada ayam umumnya singkat dan jarang meningalkan kerusakan permanent. Hal ini disebabkan karena tubuh ayam memiliki suatu kekebalan yang dapat melindungi tubuh mereka. System ini mampu melakukan reaksi yang cepat dan tepat untuk menyingkirkan materi asing tersebut. Salah satu organ yang memiliki sistem tersebut adalah saluran pencernaan (usus).
               Penyakit pada unggas baik yang berupa parasit atau virus biasanya penanggulangannya bisa dengan vaksinasi. Telur dari Ascaris suum dari babi adalah sangat tahan dan umum yang digunakan sebagai sebuah konservatif indicator dari pathogen inaktivasi dalam waktu bubur tempat penyimpanan. Telur dari Ascaridia galli yang terdapat pada unggas juga diketahui sangat kuat sehingga dapat dijadikan sebuah indikator dari inaktivasi patogen yang tidak pernah dimiliki patogen lain. Hal ini tentunya sangat dipengarui oleh kelangsungan hidup Ascaridia galli (Katakam, et al, 2014). 


IV.             KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1.         Metode pemeriksaan parasit terutama cacing pada berbagai hospes dapat dilakukan dengan cara kualitatif dan kuantitatif
2.         Pemeriksaan secara kualitatif adalah dengan metode Apung, Natif (langsung), dan Harada mori. Pemeriksaan secara kuantitatif adalah dengan metode Kato.
3.         Pemeriksaan secara kualitatif didapatkan hasil yang positif terhadap hewan jenis unggas yakni dengan didapatkannya cacing Ascaridia galli pada feses Ayam dan Bebek.


DAFTAR REFERENSI
Ackert,J.E.,1931.The morphology and life history of the fowl nematode Ascaridia lineate (Schneider). Parasitology 23 (03),360–379.
Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta
Brown, H. W. 1969. Dasar Parasitologi Klinis. Gramedia, Jakarta.
Calneck, B.W. 1997. Disease of Poultry. Tenth Edition. The Iowa State University Press. Ames, Iowa, USA.
Dahl,C.,2002. The Effect of Concurrent Infections With Pasteurella multocida and  Ascaridia galli on Free Range Chickens. Vet. Microbiol.86:313-324.
Darmawi, Balqis. U, Tiuria. R. 2011. Populasi Ascaridia galli Dalam Usus Halus Ayam Yang Diberikan Kombinasi Ekskretori/Sekretori L3 dan Imunoglobulin Yolk.Jurnal Agripet 11 (02): 22-28.
Gandahusada, S.W. Pribadi dan D.I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.
Kadarsan,S. 2005. Binatang Parasit. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Katakam. K, Mejer. H, Dalsgaard. A. 2014. Survival of Ascaris suum and Ascaridia galli eggs in liquidmanure at different ammonia concentrations andtemperatures. Vaterinary Parasitology 204 (2014): 249-257.
Kresno. 2001. Imunologi diagnosis dan prosedur laboratorium. Balai Penerbit FK UI : Jakarta.
Kurt. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Levine. D.Norman. 1994.Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.
Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of parasitology. Burgess publishing, Minnesota.
Siregar, Charles D. 2006. “Pengaruh Infeksi Cacing Usus yang Ditularkan Melalui Tanah pada Pertumbuhan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar”. Sari Pediatri, Volume 8(2): 112-117.
Soulsby, E.J.L. 1982. Helminth, Arthropods and Protozoa or Domesticated Animals. 7rd Ed. Lea and Febiger. Philadelphia.
Tiuria, R.,1991. Hubungan Antara Dosis Infeksi, Biologi Ascaridia galli dan Produktivitas Ayam Petelur. Tesis, Program Pascasarjana. Program Studi Sains Veteriner. Institut Pertanian Bogor.