I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi
manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih
tinggi prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti
Indonesia. Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu
ditangani. Penyakit infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di
daerah tropis khususnya Indonesia berada dalam posisi geografis dengan
temperatur serta kelembaban yang cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik
(Kadarsan,2005).
Penularan penyakit parasit disebabkan oleh tiga faktor yaitu
sumber infeksi, cara penularan dan adanya hospes yang ditulari. Efek gabungan
dari faktor ini menentukan penyebaran dan menetapnya parasit pada waktu dan
tempat tertentu. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat bersifat menahun
disertai dengan sedikit atau tanpa gejala. (Noble, 1961).
Salah satu penyakit infeksi
yang masih banyak terjadi pada penduduk di Indonesia adalah yang disebabkan
golongan Soil-Transmitted Helminth, yaitu golongan nematode usus
yang dalam penularannya atau dalam siklus hidupnya melalui media tanah. Cacing
yang tergolong dalam Soil-Transmitted Helminth adalah Ascaris
lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis serta cacing
tambang yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale
(Siregar, 2006)
Proses identifikasi infeksi cacing perlu diadakannya
pemeriksaan, baik dalam keadaan cacing yang masih hidup ataupun yang telah
dipulas. Cacing yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasitnya. Untuk
cacing atau protozoa usus akan dilakukan pemeriksaan melalui feses atau tinja
(Kadarsan,2005).
Pemeriksaan
feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva
yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa
tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya.
Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari
pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk
mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara
melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi
dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan.
Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang
hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan (Gandahusada,
2000).
B.
Tujuan
1. Mendiagnosa
adanya infeksi cacing parasit pada hati sapi, empedu sapi, babat sapi,
usus kambing dan usus ayam.
2. Mengetahui
siput sebagai hospes intermedier dan fase-fase yang terjadi dalam tubuh hospes
intermedier.
3.
Mengetahui morfologi cacing
parasit (telur, larva, dan dewasa).
II.
MATERI DAN METODE
A.
Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
gelas objek, kaca penutup, tabung reaksi, baki, gelas beker, saringan, tusuk
sate, kertas saring, plastic es, penjepit, mikroskop, pipet tetes, dan tissue.
Bahan yang
digunakan adalah feses ayam, bebek, kambing, sapi, balita, larutan eosin 2%,
NaCl 33%, dan akuades.
B.
Metode
a. Metode Apung
1.
10
gram tinja di campur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%) dalam beaker glas kecil,
kemudian diaduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa di saring
menggunakan penyaring teh.
2.
Didiamkan
selama 5-10 menit, kemudian dengan lidi di ambil larutan permukaan dan di taruh
di atas gelas objek, kemudian di tutup dengan cover glass. Diamati di
bawah mikroskop.
3.
Di
tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan
tabung, didiamkan selama 5-10 menit dan di tutup/di letakkan gelas objek dan
segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas gelas preparat dengan cairan
berada di antara gelas preparat dan gelas penutup, kemudian diamati di bawah
mikroskop.
b.
Metode Natif (Langsung)
1. Gelas objek yang bersih di teteskan
1-2 tetes NaCl fisiologi atau eosin 2%
2. Sedikit feses diambil dengan lidi
dan diletakkan pada gelas objek tersebut
3. Feses yang diratakan dengan lidi,
kemudian di tutup dengan cover glass.
4. Diamati di bawah mikroskop.
c.
Metode Harada Mori
1.
Plastik
diisi aquades steril kurang lebih 5ml.
2.
Dengan
tusuk sate, feses di oleskan pada kertas saring sampai mengisi sepertiga
bagiannya tengahnya.
3.
Kertas
saring di masukkan ke dalam plastik tersebut diatas. Cara memasukkan kertas
saring dilipat membujur dengan ujung kertas menyentuh permukaan aquades dan
feses jangan sampai terkena aquades.
4.
Plastik
dilipat sedikit bagian atasnya kemudian dijepit.
5.
Simpan
selama 3-7 hari.
6.
Diamati
perkembangan ada tidaknya larva
III. HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel
1. Hasil Pemeriksaan Telur dan Larva Cacing Parasit
|
Kelompok
|
Feses
|
Metode
|
||
|
Direct
slide
|
Metode apung
|
Harada
mori
|
||
|
1
|
Ayam
|
|
|
-
|
|
Sapi
|
|
|
-
|
|
|
Kambing
|
|
|
-
|
|
|
Bebek
|
|
|
1 Larva Ascaridiagalli
|
|
|
Balita
|
|
|
-
|
|
|
2
|
Ayam
|
Ascaridiagalli 1 larva
|
|
Ascaridiagalli> 5 larva
|
|
Sapi
|
|
|
|
|
|
Kambing
|
|
|
|
|
|
Bebek
|
|
|
|
|
|
Balita
|
|
|
|
|
|
3
|
Ayam
|
Ascaridiagalli 1 (larva)
|
-
|
-
|
|
Sapi
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Kambing
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Bebek
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Balita
|
-
|
-
|
-
|
|
|
4
|
Ayam
|
12 larva Ascaridiagalli
|
|
|
|
Sapi
|
|
|
|
|
|
Kambing
|
|
2
|
|
|
|
Bebek
|
|
|
|
|
|
Balita
|
|
|
|
|

Gambar 1. Cacing Ascaridia galli pada Feses Bebek Metode
Harada Mori
B.
Pembahasan
Identifikasi parasit tergantung dari persiapan bahan yang
baik untuk memeriksa dengan mikroskop, baik dalam keadaan hidup maupun sebagai
sediaan yang telah dipulas. Hal yang menguntungkan adalah untuk mengetahui
kira-kira ukuran dari bermacam-macam parasit tetapi perbedaan individual tidak
memungkinkan membedakan spesies hanya dengan melihat besarnya. Tinja sebagai
bahan pemeriksa harus dikumpulkan didalam suatu tempat yang bersih dan kering
bebas dari urine. Identifikasi terhadap kebanyakan telur cacing dapat dilakukan
dalam beberapa hari setelah tinja dikeluarkan. (Kurt, 1999)
Hasil
pemeriksaan tinja yang telah dilakukan dengan metode natif, metode apung, dan
metode harada mori menunjukkan hasil yang negatif yang artinya bahwa tidak
ditemukan telur ataupun larva dalam tinja yang telah diperiksa. Hasil positif
hanya terdapat pada hewan unggas yaitu ayam dan bebek dengan ditemukannya Ascaridia galli. Hasil negatif pada
semua metode yang dilaksanakan pada hospes lain dapat disebabkan antara lain:
- Sampel atau feces diperoleh dari balita yang masih balita yang belum terkontaminasi baik lingkungan maupun makanannya (tidak terinfeksi cacing parasit usus)
- Kurang ketelitian dan kecerobohan praktikan dalam melakukan praktikum. Misalnya pada metode natif pada saat menusuk-menusukkan lidi bambu pada feces telur yang terdapat pada feces tidak menempel pada lidi. Pada metode apung, pada saat larutan feces didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.
- Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur cacing parasit maupun larvanya.
- Praktikan kurang paham tentang urutan kerja pada masing-masing metode.
- Pada saat diambil fecesnya, cacing belum bertelur sehingga tidak ditemukkan telur pada feces.
Pemeriksaan feces pada dasrnya dibagi menjadi dua, yaitu
pemeriksaan secara kualitatif dan pemeriksaan secara kuantitatif. Pemeriksaan
feces secara kualitatif, yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukkan
telur pada masing-masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya.
Pemeriksaan feces secara kuantitatif yaitu pemeriksaan feces yang didasarkan
pada penemuan telur pada tiap gram feces (Gandahusada,2000).
Telur fertile bentuknya yaitu, telur oval lebar, mempunyai
tiga lapis dinding yang terluar bergerigi, terdapat rongga udara. Telur
infertile bentuknya yaitu, telur lebih besar daripada yang fertile, dengan ovum
yang atrofi, tidak terdapat rongga udara. Metode yang digunakan pada
pemeriksaan feces masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan
masing-masing metode antara lain:
- Metode natif : Murah, mudah dan cepat.
- Metode apung : Baik untuk semua jenis telur baik untuk infeksi berat dan ringan. Telur yang ditemukan terpisah dari kotoran.
- Metode harada mori : Baik sekali untuk melihat infeksi cacing tambang dimana larvanya jauh lebih besar dari telurnya.
Kelebihan
masing-masing metode yang digunakan antara lain:
- Metode natif : Sedikitnya feces yang digunakkan untuk infeksi ringan hanya untuk pemeriksaan infeksi berat.
- Metode apung : membutuhkan waktu lebih lama, pada waktu pengambilan telur, telur yang mengapung tidak terambil. Pada waktu menunggu baki atau tabung reaksi tersenggol sehingga tidak mengapung dan hasilnya negatif.
- Metode harada mori : Membutuhkan waktu dan alat yang lebih lama.
Teknik Flotasi pada metode apung untuk konsentrasi kista dan
telur berdasarkan perbedaan berat jenis antara larutan kimia tertentu (1120 sampai
1210) dan telur larva cacing serta kista protozoa (1050 sampai 1150). Terutama
yang dipakai adalah larutan gula, NaCl atau ZnSO4. Telur dan Kista
mengapumg dipermukkaan larutan yang lebih berat, sedangkan tinja tenggelam
perlahan-lahan ke dasar. Flotasi lebih baik dari pada sedimentasi pada
pembuatan konsentrasi kista dan telur, kecuali telur beroperkulum, telur
Schistoma dan telur Ascaris yang tidak dibuahi. Flotasi ZnSO4 biasanya
sering dipergunakkan dan lebih baik dari flotasi gula, NaCl atau larutan garam
jenuh (Brine). Cara pengapungan feces dicampur dengan larutan garam denagn
berat jenis 1200 gram/cc, sehingga telur cacing dan kista akan mengapung ke
permukaan kemudian diambil sebagai bahan pemeriksaan. Larutan dengan berat
jenis 1200 gram/cc ini telur cacing Necator americanus, Ancylostoma
dupdenale, Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura tidak mengalami
kerusakan, tetapi larva dari Schistosoma sp, Strongyodes sp, Necator
americanus, Ancylostoma duodenale dan kista protozoa menjadi sangat menciut.
Sebaliknya, telur Opisthorchis sp dan Clonorchis sinensis berat
jenisnya lebih besar dari 1200 gram/cc sehingga mengendap (Brown, 1969).
Cara menghitung telur pada pemeriksaan dengan metode kato
kuantitatif. Penyelidikkan mengenai penduduk yang terkena infeksi, diharapkan
dapat menentukkan berat infeksi dengan mendapatkan jumlah telur yang
diperkirakan. Telur yang dikeluarkan setiap harinya berbeda-beda, maka
diperlukan perhitungan atas beberapa bahan, terdapat siklus dalam pembentukan
telur, pengaruh dari kepadatan tinja, makanan, pencernaan yang salah dan
faktor-faktor lain yang diketahui, dan pengeluaran telur tiap cacing mungkin
berbeda untuk hospes yang berbeda. Jumlah telur yang dikeluarkan tiap harinya
lebih dapat dipercaya dari pada jumlah telur dalam tiap gram tinja. Menghitung
jumlah telur sebelum pengobatan dapat menentukan pengobatan yang diperlukan dan
menghitung jumlahnya setelah pengobatan dapatmenentukkan hasilnya. (Brown,
1969)
Empat kriteria untuk infeksi oleh cacing parasit (Dahl, 2002):
- Infeksi sangat ringan : 1-9 (15-149 butir telur)
- Infeksi ringan : 10-24 (150-375 butir telur)
- Infeksi sedang : 25-49 (375-749 butir telur)
- Infeksi berat : > 50 (750 butir telur lebih)
Pemeriksaan kuantitatif Kato yang dilakukan hanya
berdasarkan perkiraan yang ditentukkan praktikan. Perhitungan yang dilakukan
didapatkan hasil yaitu:
- Infeksi pada orang dewasa termasuk infeksi ringan dengan 90 telur yang ditemukkan pada 0,5 gram tinja.
- Infeksi pada anak-anak termasuk infeksi ringan dengan 60 butir telur pada 0,5 tinja.
Infeksi oleh parasit berlangsung tanpa gejala atau
menimbulkan gejala ringan. Diagnosis yang berdasarkan gejala klinik saja kurang
dapat dipastikkan, segingga harus dengan bantuan pemeriksaan labolatorium.
Bahan yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasit, untuk cacing atau
protozoa usus maka bahan yang diperiksa adalah tinja. Identifikasi terhadap
kebanyakkan telur cacing dapat dilakukan dalam bebrapa hari setelah tinja
dikeluarkan (Ghandahusada, 2000).
Praktikum kali ini didapatkan caing Ascaridia galli dari feses bebek dan feses ayam. Ascaridia galli merupakan parasit besar
yang umum terdapat di dalam usus kecil berbagai unggas peliharaan maupun unggas
liar. Penyebarannya luas di seluruhdunia. Cacing A. galli merupakan
cacing terbesar dalam kelas nematoda pada unggas. Tampilan cacing dewasa adalah
semitransparan, berukuran besar, dan berwarna putih kekuning-kuningan (Tiuria,
1991).
Pada bagian anterior terdapat sebuah mulut yang dilengkapi
dengan tiga buah bibir, satu bibir terdapat pada dorsal dan dua lainnya pada
lateroventral. Pada kedua sisi terdapat sayap yang sempit dan membentang
sepanjang tubuh. Cacing jantan dewasa berukuran panjang 51 – 76 mm dan cacing
betina dewasa 72 – 116 mm. Cacing jantan memiliki preanal sucker dan dua
spicula berukuran panjang 1 – 2,4 mm, sedangkan cacing betina memiliki vulva
dipertengahan tubuh. Telur A. galli berbentuk oval, kerabang lembut,
tidak bersegmen, dan berukuran 73–92 x 45–57µm (Levine, 1994).
Daur hidup A. galli bersifat langsung dan tidak
langsung. Telur infektif yang termakan oleh induk semang, akan menetas di dalam
proventrikulus (lambung kelenjar) atau di dalam duodenum (Soulsby, 1982).
Dahl (2002) telah membuktikan bahwa berbagai stadium
kehidupan cacing baik larva maupun cacing dewasa masih ditemukan pada saluran
cerna ayam Lohmann Brown berumur 29 minggu, meskipun infeksi per oral dengan
1000 ± 50 telur infektif A.galli telah berlangsung selama 10 minggu. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun infeksi L2 telah berlangsung selama 12
minggu, stadium larva masih ditemukan di dalam saluran cerna ayam. Suspensi
ekskretori/sekretori larva A. galli dapat memicu respons humoral ayam petelur.
Aplikasi ekskretori/sekretori larva A. galli, IgY anti-ascaridiosis, dan
kombinasinya dapat mengurangi jumlah kelangsungan hidup cacing A. galli di
dalam usus halus ayam (Darmawi, 2011).
Di dalam perkembangan cacing A. galli, sebagian dari larva mengalami
fase jaringan {"tissue phase") yang dapat berlangsung dari hah
pertama sampai hah ke-26 sesudah infeksi. Menurut Ackert (1971), fase jaringan
ini terjadi karena larva yang masuk ke dalam selaput lendtr usus mengalami
hambatan perkembangan (tertahan). jadi cacing A. galli hidup di dalam
selaput lendir duodenum mulai hah ke-8 - 17 setelah infeksi. Larva 5 (L5)
(cacing muda) kembali ke dalam lumen duodenum pada hari ke-17 - 18 setelah
infeksi. Cacing muda ini siap berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing betina
menurut Ackert (1971) mulai bertelur antara 6-8 minggu pasca infeksi.
Ascaridia galli menimbulkan efek patogenik terutama ketika masih berbentuk
larva di dalam selaput lendir usus. Larva akan menyebabkan lesio-lesio,
perdarahan dan enteritis. Gejala yang mungkin tampak pada ayam yang terinfeksi
adalah anemia, diare, dan rasa haus yang beriebihan, kaki menjadi pucat dan
sayap terkulai. Ayam kelihatan lemas, malas serta mengantuk. Pada akhirnya
pertumbuhan berat badan menjadi terhambat dan menurun (Calneck, 1991). Setiap ekor
cacing A. galli bahkan diduga dapat menurunkan berat badan ayam sebesar
1,5 gram.
Akoso (1998)
mengatakan dalam waktu 35 hari cacing menjadi dewasa dan mulai bertelur.
Setelah cacing ini menjadi dewasa akan meningalkan selaput lendir dan tinggal
di dalam lumen usus. Ayam yang masih muda paling peka terhadap kerusakan yang
disebabkan oleh cacing ini. Dalam umur 2 atau 3 bulan ayam akan membentuk
ketahanan (imunitas jaringan) terhadap cacing gilik. Kresno (2001) menambahkan
infeksi ascaridia galli pada ayam umumnya singkat dan jarang meningalkan
kerusakan permanent. Hal ini disebabkan karena tubuh ayam memiliki suatu
kekebalan yang dapat melindungi tubuh mereka. System ini mampu melakukan reaksi
yang cepat dan tepat untuk menyingkirkan materi asing tersebut. Salah satu
organ yang memiliki sistem tersebut adalah saluran pencernaan (usus).
Penyakit pada unggas baik yang berupa parasit atau virus biasanya penanggulangannya bisa dengan vaksinasi. Telur dari Ascaris suum dari babi adalah sangat tahan dan umum yang digunakan sebagai sebuah konservatif indicator dari pathogen inaktivasi dalam waktu bubur tempat penyimpanan. Telur dari Ascaridia galli yang terdapat pada unggas juga diketahui sangat kuat sehingga dapat dijadikan sebuah indikator dari inaktivasi patogen yang tidak pernah dimiliki patogen lain. Hal ini tentunya sangat dipengarui oleh kelangsungan hidup Ascaridia galli (Katakam, et al, 2014).
IV.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum
yang telah dilakukan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1.
Metode pemeriksaan parasit terutama
cacing pada berbagai hospes dapat dilakukan dengan cara kualitatif dan
kuantitatif
2.
Pemeriksaan secara kualitatif adalah
dengan metode Apung, Natif (langsung), dan Harada mori. Pemeriksaan secara
kuantitatif adalah dengan metode Kato.
3.
Pemeriksaan secara kualitatif didapatkan
hasil yang positif terhadap hewan jenis unggas yakni dengan didapatkannya
cacing Ascaridia galli pada feses
Ayam dan Bebek.
DAFTAR
REFERENSI
Ackert,J.E.,1931.The morphology and life history of the fowl
nematode Ascaridia lineate (Schneider). Parasitology
23 (03),360–379.
Akoso, B.
T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius,
Yogyakarta
Brown, H.
W. 1969. Dasar Parasitologi Klinis. Gramedia, Jakarta.
Calneck, B.W. 1997. Disease of Poultry. Tenth Edition. The
Iowa State University Press. Ames, Iowa, USA.
Dahl,C.,2002. The Effect of Concurrent Infections With
Pasteurella multocida and Ascaridia
galli on Free Range Chickens. Vet.
Microbiol.86:313-324.
Darmawi, Balqis. U, Tiuria. R. 2011. Populasi Ascaridia galli Dalam Usus
Halus Ayam Yang Diberikan Kombinasi Ekskretori/Sekretori L3 dan Imunoglobulin Yolk.Jurnal
Agripet 11 (02): 22-28.
Gandahusada, S.W. Pribadi dan D.I.
Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.
Kadarsan,S. 2005. Binatang Parasit. Bogor:
Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Katakam. K, Mejer. H, Dalsgaard. A.
2014. Survival
of Ascaris suum and Ascaridia galli eggs in liquidmanure at different ammonia
concentrations andtemperatures. Vaterinary
Parasitology 204 (2014): 249-257.
Kresno.
2001. Imunologi diagnosis dan prosedur
laboratorium. Balai Penerbit FK UI : Jakarta.
Kurt. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Levine. D.Norman. 1994.Buku
Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.
Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of
parasitology. Burgess publishing, Minnesota.
Siregar,
Charles D. 2006. “Pengaruh Infeksi Cacing Usus yang Ditularkan Melalui Tanah
pada Pertumbuhan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar”. Sari Pediatri, Volume
8(2): 112-117.
Soulsby, E.J.L. 1982. Helminth,
Arthropods and Protozoa or Domesticated Animals. 7rd Ed. Lea and Febiger.
Philadelphia.
Tiuria, R.,1991. Hubungan Antara
Dosis Infeksi, Biologi Ascaridia galli dan Produktivitas Ayam Petelur. Tesis, Program Pascasarjana. Program Studi
Sains Veteriner. Institut Pertanian Bogor.