PEMERIKSAAN
EKTOPARASIT PADA IKAN
Oleh:
Nama : Lala
Fadilah Mukaromah
NIM : B1J013068
Kelompok : 1
Rombongan : II
Asisten :
Ivan Aprianto
LAPORAN PARASITOLOGI
KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penyakit merupakan kendala utama
untuk keberhasilan produksi. Timbulnya penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh
padat tebar ikan yang tinggi saat pemeliharaan, transportasi benih, penanganan
dan kualitas air yang buruk (Thanikachalam, 2010).
Penyakit didefinisikan sebagai gangguan fungi fisiologis atau
penyimpangan bentuk anatomi organ tubuh, kelainan darah dan kimiawi cairan
tubuh ikan. Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, seistem respirasi
biogenetik dan metebolisme, pencernaan, organ-organ sensor sistem saraf sistem
endokin dan reproduksi (Rukmana, 2005).
Penyakit pada ikan
didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu proses kehidupan ikan,
sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Secara umum penyakit dibedakan
menjadi dua kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi
disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan
penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan,
lingkungan, keturunan dan penanganan (Afrianto dan Liviawaty, 2003).
Berdasarkan lokasinya tubuh inang diketahui ada organisme
yang tergolong sebagai ektoparasit. Ektoparasit ikan meliputi protozoa, cacing
dan krustase. Kelimpahan, keragaman jenis dan sensifitas ektoparasit mungkin
berbeda antara jenis ikan dan spesifitas ektoparasit mungkin berbeda antara
jenis ikan. Sumber untuk memperoleh ektoparsit adalah lapisan lendir sirip,
tubuh dan insang (Hadioetomo,1993)
Endoparasit dan meso parasit merupakan parasit yang
berlokasi dalam tubuh insang. Dapat ditemukan pada otot daging, organ internal,
usus, lumen dan rongga tubuh inang. Meso dan endoparasit ikan meliputi protozoa
dan cacing. Kelimpahan, keaneka ragaman dan sensifitasnya munkin berbeda antara
jenis ikan. Dari organ tersebut dapat dilihat adanya nodul-nodul sebagai
kelainan yang tampak makroskopik yang mungin disebabkan oleh adanya kiste
protozoa (terutama myxosporea atau microspora) maupun kiste parasit cacing.
Parasit cacing pada usus dapat terlihat dengan mata telanjang, sedangkan
parasit usus protozoa tidak terlihat secara makroskopik (Hadioetomo,1993).
B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk
mengenal, mengetahui, dan memahami morfologi parasit ikan (protozoa, trematoda
monogenea, dan crustacea) juga untuk mengetahui jenis parasit ikan yang berada
di bagian sirip, sisik, insang, dan lender di permukaan tubuh ikan.
II.
MATERI DAN METODE
A.
Materi
Alat yang digunakan pada praktikum
kali ini ialah gunting, pinset, skalpel, baki, object glass, cover glass,
dan mikroskop.
Bahan
yang digunakan ialah ikan mujair, ikan bawal, ikan gurame, dan ikan nilem dan
akuades.
B.
Metode
1. Bagian permukaan kulit ikan dikerok (dari
kepala sampai ekor) menggunakan skalpel
sehingga diperoleh cairan mucus (lendir) dan sisiknya.
2.
Hasil kerokan tersebut diusapkan diatas
objek gelas dan ditetesi akuades secukupnya.
3.
Untuk teknik pemotongan bagian tubuh
ikan, bagian yang diambil ialah insang, sirippectoral, sirip dorsal, sirip
abdominal, sirip anal, dan sirip caudal.
4.
Spesimen ditutup menggunakan gelas
penutup dan kemudian diamati dibawah mikroskop.
5.
Spesimen diamati jenis-jenis parasit
yang terdapat didalamnya.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Tabel.1 Hasil Pemeriksaan
Ektoparasit pada Ikan
|
Kelompok
|
Preparat
|
Ikan
|
|||
|
Nilem
|
Mujair
|
Gurame
|
Bawal
|
||
|
1
|
Pectoral Fin
|
|
Gyrodactylus 1
|
|
|
|
Dorsal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Abdominal fin
|
|
|
|
|
|
|
Anal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Caudal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Lendir
|
|
|
|
|
|
|
Sisik
|
|
|
Trichodina 2
|
|
|
|
Insang
|
|
|
|
Gyrodactylus 2
|
|
|
2
|
Pectoral Fin
|
|
|
|
|
|
Dorsal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Abdominal fin
|
|
|
|
|
|
|
Anal Fin
|
|
|
Trichodina 1
|
|
|
|
Caudal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Lendir
|
|
|
|
|
|
|
Sisik
|
|
|
|
|
|
|
Insang
|
Dactylogyrus 1
|
Dactylogyrus 1
|
Dactylogyrus 1
|
Dactylogyrus 2
|
|
|
3
|
Pectoral Fin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Dorsal Fin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Abdominal fin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Anal Fin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Caudal Fin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Lendir
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Sisik
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Insang
|
Trichodina= 26
|
-
|
-
|
Dactylogyrus= 4
|
|
|
4
|
Pectoral Fin
|
|
|
|
|
|
Dorsal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Abdominal fin
|
|
|
|
|
|
|
Anal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Caudal Fin
|
|
|
|
|
|
|
Lendir
|
|
|
|
|
|
|
Sisik
|
|
|
|
|
|
|
Insang
|
|
Dactylogyrus 1
|
|
|
|

Gambar 1. Gyrodactylus pada insang
B.
Pembahasan
Pada praktikum ini, identifikasi
parasit dilakukan dengan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis yakni
pemeriksaan ektoparasit pada beberapa organ ikan. Pada pemeriksaan ektoparasit,
dilakukan metode apus (kerokan kulit) pada kulit ikan untuk mendapatkan lendir
ikan sebagai specimen, juga dilakukan teknik pemotongan bagian tubuh ikan yakni
pemotongan pada insang dan sirip.
Dari hasil pengamatan 4 sampel ikan yang digunakan
baik untuk ikan mujair, ikan nilem, ikan gurame
maupun ikan bawal, rata-rata terserang parasit pada bagian insang.
Parasit yang menyerang ikan adalah Dactylogylus
sp. dan Gyrodactylus sp. yang
keduanya rata-rata ditemukan di bagian insang walaupun ada juga yang ditemukan
pada bagian tubuh lain seperti pada sirip dan pada sisik yang telah dikelupas.
Menurut Indriati (2006), Dactylogylus sp. tersebut
merupakan parasit yang sering menyerang ikan air laut maupun air tawar terutama
ikan carp. Sama halnya dengan Gyrodactylus sp. Menurut Manopo (1995), Gyrodactylus sp. ini sering ditemukan
menginfeksi ikan-ikan air tawar seperti Ikan Mas (Cyprinus carpio), Betutu (Oxyeleotris
marmorata), Nila (Oreochromis
niloticus) dan lainnya.
Dactylogylus sp. ini banyak ditemukan di insang sedangkan Gyrodactylus lebih banyak ditemukan di sekitar kulit dan sirip ikan, meskipun kadang-kadang juga ditemukan di insang (secara umum Dactylogyrus lebih menyukai insang) (Indriati, 2006). Kedua jenis parasit ini merupakan jenis parasit yang bersifat ektoparasit (menyerang di bagian luar tubuh ikan). Gyrodactylus sp. dan Dactylogylus sp. ini dapat menyerang ikan secara eksternal karena kedua parasit ini tersuspensi di air sehingga bagian-bagian awal yang terkena parasit ini adalah organ luar salah satunya insang. Insang ikan sangat mudah terkena penyakit/parasit karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa insang ini terdiri dari bagian yang berjajar dan panjang yang memilki selaput yang tipis. Hal ini menyebabkan insang sangat mudah terkena penyakit apalagi insang ini berfungsi sebagai jalur penyaringan air yang keluar masuk ke dalam tubuh ikan.
Dactylogylus sp. ini banyak ditemukan di insang sedangkan Gyrodactylus lebih banyak ditemukan di sekitar kulit dan sirip ikan, meskipun kadang-kadang juga ditemukan di insang (secara umum Dactylogyrus lebih menyukai insang) (Indriati, 2006). Kedua jenis parasit ini merupakan jenis parasit yang bersifat ektoparasit (menyerang di bagian luar tubuh ikan). Gyrodactylus sp. dan Dactylogylus sp. ini dapat menyerang ikan secara eksternal karena kedua parasit ini tersuspensi di air sehingga bagian-bagian awal yang terkena parasit ini adalah organ luar salah satunya insang. Insang ikan sangat mudah terkena penyakit/parasit karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa insang ini terdiri dari bagian yang berjajar dan panjang yang memilki selaput yang tipis. Hal ini menyebabkan insang sangat mudah terkena penyakit apalagi insang ini berfungsi sebagai jalur penyaringan air yang keluar masuk ke dalam tubuh ikan.
Menurut Alifudin (1996), Insang yang terserang
parasit ini terlihat warna insangnya berubah menjadi pucat dan keputih-putihan
dan memproduksi lendir yang berlebih. Hal ini tentunya ini akan mengganggu
pertukaran gas yang terjadi di insang. Hal ini akan berakibat pada terganggunya
pernapasan dan osmoregulasi ikan. Ditambahkan pula oleh Fujaya (2008), bahwa
ikan yang terserang Dactylogyrus sp biasanya akan menjadi kurus, berenang
menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutup dengan sempurna karena
insangnya rusak, dan kulit ikan kelihatan tak bening lagi. Ikan yang terkena
ektoparasit biasanya mengalami gejala seperti berikut : nafsu makan menurun,
lemah, tubuh berwarna gelap, pertumbuhan lambat, dan produksi lendir berlebih,
terjadi peradangan pada kulit disertai warna kemerahan pada lokasi penempelan
cacing serta ikan akan menggosok-gosokkan badannya pada benda di sekitarnya. Dactylogyrus sp sering
menyerang ikan di kolam yang kepadatannya tinggi dan ikan-ikan yang kurang
makan lebih sering terserang parasit ini dibanding yang kecukupan pakan. (Effendi, 2002).
Dactylogyrus
sp. Termasuk hewan parasit cacing tingkat rendah (Trematoda). Hidup
tanpa inang antara (intermediate host), sehingga seluruh hidupnya berfungsi
sebagai parasit. Pada
bagian tubuhnya terdapat posterior Haptor. Haptornya ini tidak memiliki
struktur cuticular dan memiliki satu pasang kait dengan satu baris. Gyrodactilus termasuk cacing tingkat
rendah (Trematoda). Gyrodactilus sp biasanya sering menyerang ikan air tawar,
payau dan laut pada bagian kulit luar dan insang. Parasit ini bersifat vivipar
dimana telur berkembang dan menetas di dalam uterusnya. Memiliki panjang tubuh
berkisar antara 0,5 – 0,8 mm, hidup pada permukaan tubuh ikan dan biasa
menginfeksi organ-organ lokomosi hospes dan respirasi. Trichodina
sp. Mempunyai
tubuh berbentuk datar seperti piring dengan dikelilingi rambut getar (marginal
dan lateral cilia). Pada tubuh bagian bawah terdapat lingkaran pelekat
(adhesive disk) untuk melekatkan dirinya ketubuh ikan atau benda lainnya
(Effendi, 2002).
Selain ektoparasit, ikan juga biasanya terkena
endoparasit. Endoparasit yang biasanya menyerang ikan adalah Ichtiophonus sp. yang menyerang pada
sistem peredaran darah sebagian jenis ikan (Kocan, 2013). Gangguan kesehatan dan menyebabkan kerugian besar, antara
lain kematian massal, penurunan berat dan pengurangan fekunditas. Serangan
parasit juga menyebabkan penolakan konsumen terhadap ikan karena penurunan mutu
dan kualitas ikan. Infeksi parasit pada ikan juga berpengaruh terhadap
kesehatan manusia apabila ikan mengandung parasit zoonotik (Purwanti, 2012).
IV.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan acara ektoparasit
pada tubuh ikan dapat disimpulkan bahwa :
1.
Ektoparasit
yang terdapat pada tubuh ikan merupakan Dactylogyrus sp dan
Gyrodactylus sp. yang kebanyakan
hidup dan menetap pada insang ikan.
2.
Trichodina
sp. juga ditemukan pada sisik ikan dan insang ikan.
3.
Pemeriksaan ektoparasit ikan dapat
menggunakan teknik apus untuk pengambilan lendir dan sisik, juga dengan teknik
pemotongan bagian tubuh ikan untuk pemeriksaan bagian sirip dan insang.
DAFTAR REFERENSI
Alifudin, Dama. 1996. Kriteria Ikan Terinfeksi, Sakit,
Tertular, Sembuh
dan Sehat. Materi
Seminar HPIK. Bogor: BpLPP
Afrianto dan Liviawaty. 1992. Pengendalian
hama dan penyakit ikan. Penerbit kanisius. Yogyakarta.
Effendi, Moch ichsan.Biologi
Perikanan.Jakarta:Yayasan Pustaka Nusantara; 2002
Fujaya, Yushinta .2004. Fisiologi
Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi
Dasar Dalam praktek : Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Granmedia
Pustaka Utama: Jakarta.
Indriati.A.
2006.Identifikasi dan diagnosa
Trichodina sp dan dactylogyrus sp pada ikan mas di Stasiun Karantina Ikan
Kelas II Luwuk. Fakultas perikanan Unismuh Luwuk.
Kocan. R, Lapatra. S, Hersberger. P.
2013. EVIDENCE FOR AN AMOEBA-LIKE INFECTIOUS STAGE OF ICHTHYOPHONUS SP. AND DESCRIPTION
OF A CIRCULATING BLOOD STAGE: A PROBABLE MECHANISM FOR DISPERSAL WITHIN THE
FISH HOST. Journal Parasitologi 99
(2): 235-240.
Manoppo,
H. 1995. Parasit dan Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado.
Purwanti. R, Susanti. R, Martuti. N. K. 2012. Pengaruh
ekstrak Jahe terhadap Penurunan Jumlah Ektoparasit Protozoa pada Benih Kerapu
Macan. Unnes Journal of life science
1 (2): 70-77.
Rukmana.R.2005. Ikan Mas Pembenihan dan Pembesaran.
penerbit Aneka Ilmu.Semarang.
Thanikachalam
K, Marimutu K, Xavier R. Effect of garlic peel on growh, hematological
parameters and desease resisrance against Aeromonas Hidrophyla in Afrikan
catfish Clarias gariepinus (bloch) fingerlings. Asean pasific jounal of
tropical medicine 3:614-618.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar