Selasa, 05 Mei 2015

laporan parasitologi Pemeriksaan ektoparasit ikan



PEMERIKSAAN EKTOPARASIT PADA IKAN




 



                                                                                            


Oleh:
Nama            :  Lala Fadilah Mukaromah
NIM              :  B1J013068
Kelompok     :  1
Rombongan :  II
Asisten          :  Ivan Aprianto





LAPORAN PARASITOLOGI




       KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penyakit merupakan kendala utama untuk keberhasilan produksi. Timbulnya penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh padat tebar ikan yang tinggi saat pemeliharaan, transportasi benih, penanganan dan kualitas air yang buruk (Thanikachalam, 2010).
Penyakit didefinisikan sebagai gangguan fungi  fisiologis atau penyimpangan bentuk anatomi organ tubuh, kelainan darah dan kimiawi cairan tubuh ikan. Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, seistem respirasi biogenetik dan metebolisme, pencernaan, organ-organ sensor sistem saraf sistem endokin dan reproduksi (Rukmana, 2005).
Penyakit pada ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu proses kehidupan ikan, sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Secara umum penyakit dibedakan menjadi dua kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan (Afrianto dan Liviawaty, 2003).
Berdasarkan lokasinya tubuh inang diketahui ada organisme yang tergolong sebagai ektoparasit. Ektoparasit ikan meliputi protozoa, cacing dan krustase. Kelimpahan, keragaman jenis dan sensifitas ektoparasit mungkin berbeda antara jenis ikan dan spesifitas ektoparasit mungkin berbeda antara jenis ikan. Sumber untuk memperoleh ektoparsit adalah lapisan lendir sirip, tubuh dan insang (Hadioetomo,1993)
Endoparasit dan meso parasit merupakan parasit yang berlokasi dalam tubuh insang. Dapat ditemukan pada otot daging, organ internal, usus, lumen dan rongga tubuh inang. Meso dan endoparasit ikan meliputi protozoa dan cacing. Kelimpahan, keaneka ragaman dan sensifitasnya munkin berbeda antara jenis ikan. Dari organ tersebut dapat dilihat adanya nodul-nodul sebagai kelainan yang tampak makroskopik yang mungin disebabkan oleh adanya kiste protozoa (terutama myxosporea atau microspora) maupun kiste parasit cacing. Parasit cacing pada usus dapat terlihat dengan mata telanjang, sedangkan parasit usus protozoa tidak terlihat secara makroskopik (Hadioetomo,1993). 

B.     Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengenal, mengetahui, dan memahami morfologi parasit ikan (protozoa, trematoda monogenea, dan crustacea) juga untuk mengetahui jenis parasit ikan yang berada di bagian sirip, sisik, insang, dan lender di permukaan tubuh ikan.


II.    MATERI DAN METODE
A.             Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini ialah gunting, pinset, skalpel, baki, object glass, cover glass, dan mikroskop.
Bahan yang digunakan ialah ikan mujair, ikan bawal, ikan gurame, dan ikan nilem dan akuades.
B.        Metode
1.     Bagian permukaan kulit ikan dikerok (dari kepala sampai ekor) menggunakan    skalpel sehingga diperoleh cairan mucus (lendir) dan sisiknya.
2.          Hasil kerokan tersebut diusapkan diatas objek gelas dan ditetesi akuades secukupnya.
3.          Untuk teknik pemotongan bagian tubuh ikan, bagian yang diambil ialah insang, sirippectoral, sirip dorsal, sirip abdominal, sirip anal, dan sirip caudal.
4.          Spesimen ditutup menggunakan gelas penutup dan kemudian diamati dibawah mikroskop.
5.          Spesimen diamati jenis-jenis parasit yang terdapat didalamnya.



III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Tabel.1 Hasil Pemeriksaan Ektoparasit pada Ikan
Kelompok
Preparat
Ikan
Nilem
Mujair
Gurame
Bawal
1
Pectoral Fin

Gyrodactylus 1


Dorsal Fin




Abdominal fin




Anal Fin




Caudal Fin




Lendir




Sisik


Trichodina 2

Insang



Gyrodactylus 2
2
Pectoral Fin




Dorsal Fin




Abdominal fin




Anal Fin


Trichodina 1

Caudal Fin




Lendir




Sisik




Insang
Dactylogyrus 1
Dactylogyrus 1
Dactylogyrus 1
Dactylogyrus 2
3
Pectoral Fin
-
-
-
-
Dorsal Fin
-
-
-
-
Abdominal fin
-
-
-
-
Anal Fin
-
-
-
-
Caudal Fin
-
-
-
-
Lendir
-
-
-
-
Sisik
-
-
-
-
Insang
Trichodina= 26
-
-
Dactylogyrus= 4
4
Pectoral Fin




Dorsal Fin




Abdominal fin




Anal Fin




Caudal Fin




Lendir




Sisik




Insang

Dactylogyrus 1


Gyrodactylus3.jpg





Gambar 1. Gyrodactylus pada insang


B.           Pembahasan
           Pada praktikum ini, identifikasi parasit dilakukan dengan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis yakni pemeriksaan ektoparasit pada beberapa organ ikan. Pada pemeriksaan ektoparasit, dilakukan metode apus (kerokan kulit) pada kulit ikan untuk mendapatkan lendir ikan sebagai specimen, juga dilakukan teknik pemotongan bagian tubuh ikan yakni pemotongan pada insang dan sirip.
Dari hasil pengamatan 4 sampel ikan yang digunakan baik untuk ikan mujair, ikan nilem, ikan gurame  maupun ikan bawal, rata-rata terserang parasit pada bagian insang. Parasit yang menyerang ikan adalah Dactylogylus sp. dan Gyrodactylus sp. yang keduanya rata-rata ditemukan di bagian insang walaupun ada juga yang ditemukan pada bagian tubuh lain seperti pada sirip dan pada sisik yang telah dikelupas.
Menurut Indriati (2006), Dactylogylus sp. tersebut merupakan parasit yang sering menyerang ikan air laut maupun air tawar terutama ikan carp. Sama halnya dengan Gyrodactylus sp. Menurut Manopo (1995), Gyrodactylus sp. ini sering ditemukan menginfeksi ikan-ikan air tawar seperti Ikan Mas (Cyprinus carpio), Betutu (Oxyeleotris marmorata), Nila (Oreochromis niloticus) dan lainnya.
Dactylogylus sp. ini banyak ditemukan di insang sedangkan Gyrodactylus lebih banyak ditemukan di sekitar kulit dan sirip ikan, meskipun kadang-kadang juga ditemukan di insang (secara umum Dactylogyrus lebih menyukai insang) (Indriati, 2006). Kedua jenis parasit ini merupakan jenis parasit yang bersifat ektoparasit (menyerang di bagian luar tubuh ikan). Gyrodactylus sp. dan Dactylogylus sp. ini dapat menyerang ikan secara eksternal karena kedua parasit ini tersuspensi di air sehingga bagian-bagian awal yang terkena parasit ini adalah organ luar salah satunya insang. Insang ikan sangat mudah terkena penyakit/parasit karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa insang ini terdiri dari bagian yang berjajar dan panjang yang memilki selaput yang tipis. Hal ini menyebabkan insang sangat mudah terkena penyakit apalagi insang ini berfungsi sebagai jalur penyaringan air yang keluar masuk ke dalam tubuh ikan.
Menurut Alifudin (1996), Insang yang terserang parasit ini terlihat warna insangnya berubah menjadi pucat dan keputih-putihan dan memproduksi lendir yang berlebih. Hal ini tentunya ini akan mengganggu pertukaran gas yang terjadi di insang. Hal ini akan berakibat pada terganggunya pernapasan dan osmoregulasi ikan. Ditambahkan pula oleh Fujaya (2008), bahwa ikan yang terserang Dactylogyrus sp biasanya akan menjadi kurus, berenang menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutup dengan sempurna karena insangnya rusak, dan kulit ikan kelihatan tak bening lagi. Ikan yang terkena ektoparasit biasanya mengalami gejala seperti berikut : nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, pertumbuhan lambat, dan produksi lendir berlebih, terjadi peradangan pada kulit disertai warna kemerahan pada lokasi penempelan cacing serta ikan akan menggosok-gosokkan badannya pada benda di sekitarnya. Dactylogyrus sp sering menyerang ikan di kolam yang kepadatannya tinggi dan ikan-ikan yang kurang makan lebih sering terserang parasit ini dibanding yang kecukupan pakan. (Effendi, 2002).
Dactylogyrus sp. Termasuk hewan parasit cacing tingkat rendah (Trematoda). Hidup tanpa inang antara (intermediate host), sehingga seluruh hidupnya berfungsi sebagai parasit. Pada bagian tubuhnya terdapat posterior Haptor. Haptornya ini tidak memiliki struktur cuticular dan memiliki satu pasang kait dengan satu baris. Gyrodactilus termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda). Gyrodactilus sp biasanya sering menyerang ikan air tawar, payau dan laut pada bagian kulit luar dan insang. Parasit ini bersifat vivipar dimana telur berkembang dan menetas di dalam uterusnya. Memiliki panjang tubuh berkisar antara 0,5 – 0,8 mm, hidup pada permukaan tubuh ikan dan biasa menginfeksi organ-organ lokomosi hospes dan respirasi. Trichodina sp. Mempunyai tubuh berbentuk datar seperti piring dengan dikelilingi rambut getar (marginal dan lateral cilia). Pada tubuh bagian bawah terdapat lingkaran pelekat (adhesive disk) untuk melekatkan dirinya ketubuh ikan atau benda lainnya (Effendi, 2002).
Selain ektoparasit, ikan juga biasanya terkena endoparasit. Endoparasit yang biasanya menyerang ikan adalah Ichtiophonus sp. yang menyerang pada sistem peredaran darah sebagian jenis ikan (Kocan, 2013). Gangguan kesehatan dan menyebabkan kerugian besar, antara lain kematian massal, penurunan berat dan pengurangan fekunditas. Serangan parasit juga menyebabkan penolakan konsumen terhadap ikan karena penurunan mutu dan kualitas ikan. Infeksi parasit pada ikan juga berpengaruh terhadap kesehatan manusia apabila ikan mengandung parasit zoonotik (Purwanti, 2012).



IV.             KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan acara ektoparasit pada tubuh ikan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Ektoparasit yang terdapat pada tubuh ikan merupakan Dactylogyrus sp dan Gyrodactylus sp. yang kebanyakan hidup dan menetap pada insang ikan.
2.      Trichodina sp. juga ditemukan pada sisik ikan dan insang ikan.
3.      Pemeriksaan ektoparasit ikan dapat menggunakan teknik apus untuk pengambilan lendir dan sisik, juga dengan teknik pemotongan bagian tubuh ikan untuk pemeriksaan bagian sirip dan insang.




DAFTAR REFERENSI
Alifudin, Dama. 1996. Kriteria Ikan Terinfeksi, Sakit, Tertular, Sembuh dan           Sehat. Materi Seminar HPIK. Bogor: BpLPP
Afrianto dan Liviawaty. 1992. Pengendalian hama dan penyakit ikan. Penerbit kanisius. Yogyakarta.
Effendi, Moch ichsan.Biologi Perikanan.Jakarta:Yayasan Pustaka Nusantara; 2002
Fujaya, Yushinta .2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.    Rineka Cipta. Jakarta.
Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam praktek : Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Granmedia Pustaka Utama: Jakarta.
Indriati.A. 2006.Identifikasi dan diagnosa Trichodina sp dan  dactylogyrus sp pada ikan mas di Stasiun Karantina Ikan Kelas  II Luwuk. Fakultas perikanan Unismuh Luwuk.
Kocan. R, Lapatra. S, Hersberger. P. 2013. EVIDENCE FOR AN AMOEBA-LIKE INFECTIOUS STAGE OF ICHTHYOPHONUS SP. AND DESCRIPTION OF A CIRCULATING BLOOD STAGE: A PROBABLE MECHANISM FOR DISPERSAL WITHIN THE FISH HOST. Journal Parasitologi 99 (2): 235-240.
Manoppo, H. 1995. Parasit dan Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado.
Purwanti. R, Susanti. R, Martuti. N. K. 2012. Pengaruh ekstrak Jahe terhadap Penurunan Jumlah Ektoparasit Protozoa pada Benih Kerapu Macan. Unnes Journal of life science 1 (2): 70-77.
Rukmana.R.2005. Ikan Mas Pembenihan dan Pembesaran. penerbit Aneka Ilmu.Semarang.
Thanikachalam K, Marimutu K, Xavier R. Effect of garlic peel on growh, hematological parameters and desease resisrance against Aeromonas Hidrophyla in Afrikan catfish Clarias gariepinus (bloch) fingerlings. Asean pasific jounal of tropical medicine 3:614-618.
                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar